Ketika dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik, maka seperti biasa, segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran. Tapi, bila sebelumnya yang dipersoalkan hanya sebatas masalah mata pelajaran atau paling jauh struktur kurikulum, Ajip Rosidi dan mungkin banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan mempersoalkan hal yang lebih mendasar — yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial.
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekular-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transendental pada semua proses pendidikan.
Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.
Pendidikan Sekuler Bagian dari Kehidupan Sekuler
Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik.
Solusi Fundamental
Pendidikan yang materialistik adalah buah dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, paradigma pendidikan yang keliru di mana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik, yakni sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.
Kedua, kelemahan fungsional pada tiga unsur pelaksana pendidikan, yakni (1) kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya; (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung; dan, (3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif.
Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani.
Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orangtua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.
Sementara itu, masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media massa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik.
Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. Sementara pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.
Solusi Pada Tataran Paradigmatik
Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas.
Melihat kondisi obyektif pendidikan saat ini, langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi, dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya.
Solusi Pada Tataran Strategi Fungsional
Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus, dan masyarakat. Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.
Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama. Kondisi tidak ideal seperti diuraikan di atas harus diatasi.
Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional, yakni: pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan di mana semua komponen berbasis paradigma Islam, yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik; (2) guru/dosen yang profesional, amanah, dan kafa’ah; (3) proses belajar mengajar secara Islami; dan, (4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Dengan melakukan optimasi proses belajar mengajar serta melakukan upaya meminimasi pengaruh-pengaruh negatif yang ada, dan pada saat yang sama meningkatkan pengaruh positif pada anak didik, diharapkan pengaruh yang diberikan pada pribadi anak didik adalah positif sejalan dengan arahan Islam.
Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sinergi pengaruh positif dari faktor pendidikan sekolah/kampus – keluarga – masyarakat inilah yang akan membuat pribadi anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan kehendak Islam. Berangkat dari paparan di atas, maka untuk mewujudkan lembaga pendidikan unggulan yang dimaksud setidaknya terdapat empat komponen yang harus dipersiapkan guna menunjang tindak solusif sebagaimana yang digagas — seperti tampak pada Bagan Skematis Fakta dan Solusi Problematika Pendidikan di Sekolah, yakni penyiapan kurikulum paradigmatik, sistem pengajaran, sarana prasarana dan sumber daya guru/dosen. (Aliya)
Sumber: http://femaleofhati.blogspot.com/
sumber : http://nongkrongcerdas.net/?p=6
Jumat, 08 Januari 2010
penelitian cara menjadi guru profesional
Rahasia untuk menjadi guru profesional adalah terus tumbuh dan belajar. Guru yang berkeinginan untuk tumbuh dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: Guru Terbaik adalah PENGALAMAN?
Melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research), guru dapat terus-menerus memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas beranjak dari kondisi pembelajaran riil mereka sendiri. Guru dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang memang dianggap mereka penting untuk diperbaiki dan diawali dengan kesadaran diri bahwa kelemahan-kelemahan itu bersifat urgen.
Penelitian tindakan kelas menyediakan suatu metode pengembangan profesi yang bersifat sistematis. Saat melaksanakan penelitian tindakan kelas, guru akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri tentang metode apa yang dapat dipakai untuk memperbaiki kondisi ini, strategi apa yang harus dilakukan, keterampilan mengajar apa yang harus saya lakukan, teknik penilaian yang bagaimana yang paling tepat untuk mengatasi persoalan ini, dst. Guru berkesempatan untuk melakukan inkuiri atas pembelajaran di kelasnya, merancang pembelajaran yang lebih baik, mengumpulkan data-data sebagai bahan analisis, dan merefleksinya sebagai bahan untuk tindakan selanjutnya. Penelitian tindakan kelas juga dapat dikatakan sebagai pengambilan tindakan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar melalui studi yang sistematis terhadap tindakan tindakan yang telah diambil dan konsekuensi-konsekuensinya. Penelitian tindakan kelas yang pada hakikatnya termasuk penelitian terapan ini dengan demikian, dirancang oleh guru (praktisi pendidikan) yang mengambil dan menganalisis data yang mereka dapatkan dari kelas mereka masing-masing. Penelitian tindakan kelas selanjutnya akan membawa guru ke tingkat keprofesionalan manapun yang guru bersangkutan inginkan.
Saat ini, sebagian besar guru merasa masih belum mampu melakukan penelitian tindakan kelas. Ketidakmampuan mereka itu lebih disebabkan oleh ketidakmauan dan ketidakpercayaan akan diri sendiri untuk mencoba, padahal penelitian tindakan kelas bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
sumber : http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/
Melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research), guru dapat terus-menerus memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas beranjak dari kondisi pembelajaran riil mereka sendiri. Guru dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang memang dianggap mereka penting untuk diperbaiki dan diawali dengan kesadaran diri bahwa kelemahan-kelemahan itu bersifat urgen.
Penelitian tindakan kelas menyediakan suatu metode pengembangan profesi yang bersifat sistematis. Saat melaksanakan penelitian tindakan kelas, guru akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri tentang metode apa yang dapat dipakai untuk memperbaiki kondisi ini, strategi apa yang harus dilakukan, keterampilan mengajar apa yang harus saya lakukan, teknik penilaian yang bagaimana yang paling tepat untuk mengatasi persoalan ini, dst. Guru berkesempatan untuk melakukan inkuiri atas pembelajaran di kelasnya, merancang pembelajaran yang lebih baik, mengumpulkan data-data sebagai bahan analisis, dan merefleksinya sebagai bahan untuk tindakan selanjutnya. Penelitian tindakan kelas juga dapat dikatakan sebagai pengambilan tindakan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar melalui studi yang sistematis terhadap tindakan tindakan yang telah diambil dan konsekuensi-konsekuensinya. Penelitian tindakan kelas yang pada hakikatnya termasuk penelitian terapan ini dengan demikian, dirancang oleh guru (praktisi pendidikan) yang mengambil dan menganalisis data yang mereka dapatkan dari kelas mereka masing-masing. Penelitian tindakan kelas selanjutnya akan membawa guru ke tingkat keprofesionalan manapun yang guru bersangkutan inginkan.
Saat ini, sebagian besar guru merasa masih belum mampu melakukan penelitian tindakan kelas. Ketidakmampuan mereka itu lebih disebabkan oleh ketidakmauan dan ketidakpercayaan akan diri sendiri untuk mencoba, padahal penelitian tindakan kelas bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
sumber : http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/
semua harus perhatikan pendidikan
Masalah pendidikan perlu mendapat perhatian semua pihak. Hal ini bertujuan untuk memublikasikan apa kekurangan dunia pendidikan. “Pers ikut memublikasikan pendidikan di Bali. Bukan berarti pers ingin menjelek – jelekkan dan pejabat jangan kebakaran jenggot. Ini dimaksudkan agar semua pihak memberi perhatian kepada dunia pendidikan.
Kalau kekurangan fasilitas sudah terungkap, akan banyak pihak yang akan memberi bantuan,” tegas Pimpinan Kelompok Media Bali Post (KMB) Satria Naradha simakrama Perdiknas Denpasar di Gedung Pers Bali K. Nadha, Senin (2/3) kemarin.
Lebih lanjut Satria Naradha mengatakan melalui publikasi, pers bias mengetuk hati nurani semua pihak agar turut membantu dunia pendidikan. Selain itu, dunia pendidikan merupakan salah satu bagian yang akan menunjuang peningkatan sumber daya manusia dan akan memperkuat jati diri manusia.
Selama ini walaupun sudah ada anggaran pendidikan 20% dari APBD dan APBN, namun masih ada yang kekurangan. Inilah yang memerlukan peran serta diluar pihak pemerintah.
Ketua Perdiknas AAA Tini Rusmini Gorda sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Satria Naradha. “Media massa memiliki peran strategis dalam menyuarakan kepentingan dunia pendidikan. Dalam hal ini KMB sudah terbukti sangat konsen untuk membantu dunia pendidikan,” tandasnya.
Gung Tini juga berharap KMB juga akan terus melakukan sinergi dengan dunia pendidikan sehingga menghasilkan output yang berkualitas. Berkaitan dengan hal tersebut, Perdiknas dan KMB menjalin kerjasama yang meliputi peluang magang bagi siswa SMK Teknologi jurusan Jaringan dan Multimedia yang berada dibawah naungan Perdiknas. Selain itu, KMB diharapkan membantu publikasi SMK yang mulai menerima siswa baru tahun ajaran 2009/2010 dengan materi pendidikan yang terdiri dari 30% teori dan 70% praktik serta adanya materi tambahan berupa kewirausahaan.
sumber : http://smkteknologinasional.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56:semua-harus-perhatikan-pendidikan&catid=25:kegiatan
Kalau kekurangan fasilitas sudah terungkap, akan banyak pihak yang akan memberi bantuan,” tegas Pimpinan Kelompok Media Bali Post (KMB) Satria Naradha simakrama Perdiknas Denpasar di Gedung Pers Bali K. Nadha, Senin (2/3) kemarin.
Lebih lanjut Satria Naradha mengatakan melalui publikasi, pers bias mengetuk hati nurani semua pihak agar turut membantu dunia pendidikan. Selain itu, dunia pendidikan merupakan salah satu bagian yang akan menunjuang peningkatan sumber daya manusia dan akan memperkuat jati diri manusia.
Selama ini walaupun sudah ada anggaran pendidikan 20% dari APBD dan APBN, namun masih ada yang kekurangan. Inilah yang memerlukan peran serta diluar pihak pemerintah.
Ketua Perdiknas AAA Tini Rusmini Gorda sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Satria Naradha. “Media massa memiliki peran strategis dalam menyuarakan kepentingan dunia pendidikan. Dalam hal ini KMB sudah terbukti sangat konsen untuk membantu dunia pendidikan,” tandasnya.
Gung Tini juga berharap KMB juga akan terus melakukan sinergi dengan dunia pendidikan sehingga menghasilkan output yang berkualitas. Berkaitan dengan hal tersebut, Perdiknas dan KMB menjalin kerjasama yang meliputi peluang magang bagi siswa SMK Teknologi jurusan Jaringan dan Multimedia yang berada dibawah naungan Perdiknas. Selain itu, KMB diharapkan membantu publikasi SMK yang mulai menerima siswa baru tahun ajaran 2009/2010 dengan materi pendidikan yang terdiri dari 30% teori dan 70% praktik serta adanya materi tambahan berupa kewirausahaan.
sumber : http://smkteknologinasional.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56:semua-harus-perhatikan-pendidikan&catid=25:kegiatan
pendididkan di indonesia
pemerataan pendidikan dalam arti pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat perhatian, terutama di negara-negara sedang berkembang. hal ini tidak terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga dengan berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for all.
keadaan tersebut diperkuat dengan kenyataan bahwa negara-negara maju umumnya adalah negara-negara yang tingkat pendidikan masyarakatnya cukup memadai, sehingga makin mendorong negara-negara berkembang seperti indonesia untuk mengikutinya melalui berbagai kebijakan peningkatan tingkat pendidikan masyarakat.
sejak tahun 1984, pemerintah indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan sekolah dasar, dilanjutkan dengan wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. upaya-upaya ini nampaknya lebih mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. di samping itu pada tahapan selanjutnya pemberian program beasiswa menjadi upaya yang cukup mendapat perhatian dengan mendorong keterlibatan masyarakat melalui gerakan nasional orang tua asuh. program beasiswa ini semakin intensif ketika terjadi krisis ekonomi, dan dewasa ini dengan program bos untuk pendidikan dasar, hal ini menunjukan bahwa pemerataan pendidikan menuntut pendanaan yang cukup besar tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas tapi juga pemeliharaan siswa agar tetap bertahan mengikuti pendidikan di sekolah.
namun apa daya usaha-usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan. hal tersebut terbukti masih banyak sekolah-sekolah di luar pulau jawa yang belum mendapatkan kelancaran dana dari pemerintah pusat.
sumber : http://www.bloggaul.com/cumikampus/readblog/71737/pendidikan-indonesia
keadaan tersebut diperkuat dengan kenyataan bahwa negara-negara maju umumnya adalah negara-negara yang tingkat pendidikan masyarakatnya cukup memadai, sehingga makin mendorong negara-negara berkembang seperti indonesia untuk mengikutinya melalui berbagai kebijakan peningkatan tingkat pendidikan masyarakat.
sejak tahun 1984, pemerintah indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan sekolah dasar, dilanjutkan dengan wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. upaya-upaya ini nampaknya lebih mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. di samping itu pada tahapan selanjutnya pemberian program beasiswa menjadi upaya yang cukup mendapat perhatian dengan mendorong keterlibatan masyarakat melalui gerakan nasional orang tua asuh. program beasiswa ini semakin intensif ketika terjadi krisis ekonomi, dan dewasa ini dengan program bos untuk pendidikan dasar, hal ini menunjukan bahwa pemerataan pendidikan menuntut pendanaan yang cukup besar tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas tapi juga pemeliharaan siswa agar tetap bertahan mengikuti pendidikan di sekolah.
namun apa daya usaha-usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan. hal tersebut terbukti masih banyak sekolah-sekolah di luar pulau jawa yang belum mendapatkan kelancaran dana dari pemerintah pusat.
sumber : http://www.bloggaul.com/cumikampus/readblog/71737/pendidikan-indonesia
dunia pendidikan perlu di dukung industri kreatif
Kekayaan budaya dan kemajuan teknologi saat ini merupakan basis bagi perkembangan industri kreatif, untuk itulah dunia pendidikan Indonesia perlu menambah dukungannya bagi perjalanan industri tersebut ke depan.
Hal tersebut diutarakan oleh Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek (Deputi PPI) Idwan Suhardi dalam jumpa pers Pameran Pekan Produksi Kreatif Indonesia kreatif bisa terus tumbuh, kami melakukan ini memang untuk merangsang kemajuan para pelaku industri kreatif," ujar Idwan.
Bersama Departemen Pendidikan Nasional, misalnya, Ristek saling bersinergi baik dari sisi pemberian fasilitas maupun pemberian insentif.
"Insentif tersebut sebesar Rp 50 juta per paket yang setahun bisa mencapai 10 sampai 20 paket, semisal untuk penelitian dan riset, serta pengkajian-pengkajian teknologi," ujarnya.
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2009/06/26/14055985/dunia.pendidikan.perlu.dukung.industri.kreatif.
Hal tersebut diutarakan oleh Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek (Deputi PPI) Idwan Suhardi dalam jumpa pers Pameran Pekan Produksi Kreatif Indonesia kreatif bisa terus tumbuh, kami melakukan ini memang untuk merangsang kemajuan para pelaku industri kreatif," ujar Idwan.
Bersama Departemen Pendidikan Nasional, misalnya, Ristek saling bersinergi baik dari sisi pemberian fasilitas maupun pemberian insentif.
"Insentif tersebut sebesar Rp 50 juta per paket yang setahun bisa mencapai 10 sampai 20 paket, semisal untuk penelitian dan riset, serta pengkajian-pengkajian teknologi," ujarnya.
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2009/06/26/14055985/dunia.pendidikan.perlu.dukung.industri.kreatif.
masalah pendidikan indonesia
Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan.
Beberapa hal yang melatarbelakangi penyusunan kurikulum baru antara lain:
Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pembaharuan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum.
Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius.
Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional.
Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoal-an yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi.
Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan.
Kurikukulum Berbasis Kompetensi ini sebenarnya memiliki justifikasi didaktis pedagogis yang kuat untuk menggantikan Kurikulum 1994, karena pendidikan dengan kurikulum 1994 ternyata tidak melahirkan unjuk kerja siswa secara bermakna. Siswa banyak tahu informasi, tetapi tidak bermakna bagi kehidupannya.
http://sim.ormawa.uns.ac.id/2009/01/05/masalah-pendidikan-di-indonesia/
Beberapa hal yang melatarbelakangi penyusunan kurikulum baru antara lain:
Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pembaharuan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum.
Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius.
Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional.
Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoal-an yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi.
Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan.
Kurikukulum Berbasis Kompetensi ini sebenarnya memiliki justifikasi didaktis pedagogis yang kuat untuk menggantikan Kurikulum 1994, karena pendidikan dengan kurikulum 1994 ternyata tidak melahirkan unjuk kerja siswa secara bermakna. Siswa banyak tahu informasi, tetapi tidak bermakna bagi kehidupannya.
http://sim.ormawa.uns.ac.id/2009/01/05/masalah-pendidikan-di-indonesia/
Senin, 04 Januari 2010
keburukan organisasi fungsional
Organisasi fungsional adalah bentuk organisasi di mana kekuasaan pimpinan dilimpahkan kepada para pejabat yang memimpin satuan di bawahnya dalam satuan bidang pekerjaan tertentu. Setiap kepala dari satuan mempunyai kekuasaan untuk memerintah dan mengawasi semua pejabat bawahan sepanjang mengenai bidangnya.
Pada tipe organisasi fungsional ini masalah pembagian kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Pembagian kerja didasarkan pada “spesialisasi” yang sangat mendalam dan setiap pejabat hanya mengerjakan suatu tugas/pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya. F. W. Taylor yang menciptakan organisasi fungsional ini.
Kebaikan dan Keburukan organisasi staff dan Lini/Garis adalah:
a. Kebaikan
1. Adanya pembagian tugas yang jelas
2. Kerjasama dan koordinasi dapat dilaksanakan dengan jelas
3. Pengembangan bakat segenap anggota terjamin
4. Staffing dilaksanakan sesuai dengan prinsip the right man on the right place
5. Bentuk organisasi ini fleksibel untuk diterapkan
b. Keburukan
1. Tugas pokok orang-orang sering di nomor dua kan .
2. Proses decesion making berliku-liku
3. Jiks pertimbangan tidak terkontrol maka sering menimbulkan nepotism spoil system patronage
4. Persaingan tidak sehat antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lainnya
Pada tipe organisasi fungsional ini masalah pembagian kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Pembagian kerja didasarkan pada “spesialisasi” yang sangat mendalam dan setiap pejabat hanya mengerjakan suatu tugas/pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya. F. W. Taylor yang menciptakan organisasi fungsional ini.
Kebaikan dan Keburukan organisasi staff dan Lini/Garis adalah:
a. Kebaikan
1. Adanya pembagian tugas yang jelas
2. Kerjasama dan koordinasi dapat dilaksanakan dengan jelas
3. Pengembangan bakat segenap anggota terjamin
4. Staffing dilaksanakan sesuai dengan prinsip the right man on the right place
5. Bentuk organisasi ini fleksibel untuk diterapkan
b. Keburukan
1. Tugas pokok orang-orang sering di nomor dua kan .
2. Proses decesion making berliku-liku
3. Jiks pertimbangan tidak terkontrol maka sering menimbulkan nepotism spoil system patronage
4. Persaingan tidak sehat antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lainnya
Langganan:
Postingan (Atom)